
SETIAP musim mudik lebaran, fenomena jutaan warga rantau pulang ke kampung halaman menjadi pemandangan biasa setiap tahun. Kemudian mereka balik setelah liburan usai dengan membawa warga lain teman, saudara, tetangga untuk ikut berangkat merantau dengan tujuan kota-kota besar seperti Jakarta.
Lagi Sapa Suruh Datang Jakarta yang diciptakan penyanyi legendaris asal Maluku Melky Goeslaw menjadi sebuah gambaran susahnya warga perantauan memulai hidup di Ibukota Jakarta, seakan tidak menyiutkan nyali gelombang perantau baru untuk mengadu nasib di kota besar itu.
Gelombang pendatang baru sudah terlihat saat arus balik lebaran berulang sejak H+1. Di sejumlah tempat keberangkatan seperti terminal bus, stasiun kereta api hingga pelabuhan wajah-wajah baru calon perantau terlihat penuh semangat untuk mengikuti jejak pendahulunya yang dipandang telah berhasil hidup lebih baik di tanah rantau.
"Baru lulus sekolah, diajak tetangga yang telah bekerja di Jakarta dua tahun lalu, untuk bekerja di sebuah pertokoan," ujar Sumarni,20, warga Kendal saat ditemui sedang menunggu bus di Terminal Mangkang, Kota Semarang.
Hal serupa diungkapkan Eko,22, yang juga mengaku nekat berangkat merantau ke Jakarta untuk mencari hidup baru karena sejak lulus sekolah menganggur di kampung halaman di Kabupaten Demak, meskipun belum tahu pekerjaan yang bakal dilakoni nantinya. "Kebetulan ada tetangga yang mengajak kerja di proyek," tambahnya saat ditemui di Stasiun Tawang, Semarang.
Perantau baru lainnya Murni,21, mengaku baru lulus sekolah nekat berangkat ke Jakarta untuk mencari kerja, meskipun belum mengetahui pekerjaan nantinya. Namun berbekal ijazah SMA, dia optimistis akan dapat memperoleh pekerjaan. Secara kebetulan ada saudara dari ibunya yang telah hidup di Jakarta siap menampung
Seorang perantau Indah, 45, asal Kota Semarang yang kini telah menjadi warga Bekasi mengaku pada saat pulang kampung ini, sekaligus membawa sejumlah tetangga dan teman untuk bekerja di tempat usahanya, yakni pembuatan dan perdagangan peralatan rumah tangga seperti almari makan, meja dapur, rak piring dan lainnya.
Selain dapat menolong tetangga yang masih menganggur di kampung, ungkap Indah, juga dapat memperoleh tenaga tenaga kerja yang murah. "Tenaga kerja yang sebelumnya sudah pada keluar dan membuka usaha sendiri. Kita butuh tenaga kerja baru, lebih mudah cari dari kampung karena selain murah juga mudah diatur serta berkomunikasi," ujarnya.
Tidak jauh berbeda, Fredy,50, warga Pekalongan pemilik warung makan di Tangerang mengungkapkan bersamaan mudik lebaran ini, sekaligus juga membawa beberapa tenaga kerja baru dari daerahnya. Secara kebetulan juga banyak yang sedang menganggur setelah menjadi korban pemutusan hubungan kerja (PHK) di pabrik tempatnya bekerja.
"Kami membutuhkan tambahan tenaga kerja dari pelayan hingga bagian dapur. Mereka tetangga orang tua yang masih menganggur mau ikut, ya kita ajak untuk bekerja," kata Fredy ditemui di sebuah loket angkutan travel di Kota Pekalongan.
Harus ada pekerjaan
Seakan memahami kondisi dan perjuangan hidup yang berat di tanah rantau, Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi kembali mengingatkan warganya agar tidak kembali merantau jika belum ada pekerjaan tetap di perantauan. "Kembali merantau silakan asal sudah ada pekerjaan tetap, jika tidak lebih baik di daerah saja, bantu kita membangun Jawa Tengah," ujarnya.
Keinginan Ahmad Luthfi cukup beralasan dan sekaligus memberikan solusi, karena sembari menunggu kebijakan dipersiapkan Pemerintah Jawa Tengah, sedang dipersiapkan untuk menyediakan fasilitas bagi masyarakat dengan memberikan pelatihan keterampilan agar bisa mengembangkan wirausaha atau mengelola potensi daerah.
Menurut Gubernur Jawa Tengah yang baru dilantik 20 Februari lalu, permintaan tidak kembali merantau tersebut karena khawatir warganya kesulitan mendapatkan pekerjaan di perantauan. Apalagi saat ini telah tumbuh banyak kawasan industri di Jawa Tengah yang membutuhkan tenaga kerja terlatih, bahkan jika berkeinginan menjadi wirausaha Pemrov Jawa Tengah memberikan bantuan hingga berhasil. (E-2)