Militer Masuk Kampus Ancam Kebebasan Berpikir dan Berekspresi

1 day ago 1
informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online informasi online terpercaya berita online terpercaya kabar online terpercaya liputan online terpercaya kutipan online terpercaya informasi online berita online kabar online liputan online kutipan online informasi akurat berita akurat kabar akurat liputan akurat kutipan akurat informasi penting berita penting kabar penting liputan penting kutipan penting informasi viral berita viral kabar viral liputan viral kutipan viral informasi terbaru berita terbaru kabar terbaru liputan terbaru kutipan terbaru informasi terkini berita terkini kabar terkini liputan terkini kutipan terkini informasi terpercaya berita terpercaya kabar terpercaya liputan terpercaya kutipan terpercaya informasi hari ini berita hari ini kabar hari ini liputan hari ini kutipan hari ini informasi viral online berita viral online kabar viral online liputan viral online kutipan viral online informasi akurat online berita akurat online kabar akurat online liputan akurat online kutipan akurat online informasi penting online berita penting online kabar penting online liputan penting online kutipan penting online informasi online terbaru berita online terbaru kabar online terbaru liputan online terbaru kutipan online terbaru informasi online terkini berita online terkini kabar online terkini liputan online terkini kutipan online terkini slot slot gacor slot maxwin slot online slot game slot gacor online slot maxwin online slot game online slot game gacor online slot game maxwin online demo slot demo slot online demo slot game demo slot gacor demo slot maxwin demo slot game online demo slot gacor online demo slot maxwin online demo slot game gacor online demo slot game maxwin online rtp slot rtp slot online rtp slot game rtp slot gacor rtp slot maxwin rtp slot game online rtp slot gacor online rtp slot maxwin online rtp slot game gacor online rtp slot game maxwin online
Militer Masuk Kampus Ancam Kebebasan Berpikir dan Berekspresi Ilustrasi(Grafis: Litbang MI)

REVISI Undang-Undang TNI yang telah disahkan oleh pemerintah dan DPR, terutama terkait munculnya dwifungsi TNI melalui jabatan sipil yang diisi prajurit, dinilai dapat mengancam kebebasan akademik dan berekspresi di perguruan tinggi. 

Infiltrasi militer di ranah pendidikan sudah mulai muncul melalui Kerja sama beberapa perguruan tinggi seperti Universitas Udayana Bali, Universitas Jenderal Soedirman Jawa Tengah, hingga Kodim 1707 yang diduga tengah mengumpulkan data mahasiswa di Merauke, Papua.

Adanya sosialisasi UU TNI di ranah kampus hingga terjalinnya kerjasama antara TNI AD dengan beberapa universitas telah menuai protes. Tidak hanya dari Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Udayana, namun Serikat Pekerja Kampus (SPK) yang terdiri dari para dosen dan civitas akademik. Mereka menilai kerja sama tersebut sebagai militerisme masuk kampus.

“Lawan militerisme masuk kampus. Ini adalah langkah mundur yang mengancam demokrasi, membunuh kebebasan berpikir, dan menyeret dunia akademik ke dalam jurang otoritarianisme,” ujar Ketua SPK, Dhia Al Uyun dalam keterangan resminya pada Kamis (3/4).

SPK menilai kerja sama TNI AD dengan Unud bukan sekadar intervensi tetapi infiltrasi sistematis untuk membungkam kebebasan akademik. Selain itu, praktik itu juga akan menghambat pencarian kebenaran secara obyektif melalui pengembangan pengajaran dan penelitian berbasis ilmu pengetahuan di perguruan tinggi.

“Ini adalah langkah mundur yang mengancam demokrasi, membunuh kebebasan berpikir, dan menyeret dunia akademik ke dalam jurang otoritarianisme,” jelasnya.

Menurutnya, kampus adalah ruang intelektual yang harus dilestarikan dengan nilai-nilai sipil, bukan militer yang dianggap sebagai barak.

“Kampus adalah ruang intelektual, bukan barak! Di sini, argumen bertemu argumen, bukan moncong senjata yang berbicara,” tukas Dhia.

“Kebebasan akademik hanya tumbuh dalam atmosfer egaliter dan dialogis—bukan di bawah bayang-bayang feodalisme kronis dan kultur hirarkis,” sambungnya.

Selain itu, Dhia menjelaskan para tenaga pendidik berbagai kampus sebelumnya juga diduga mendapatkan tekanan I. Ragam tekanan itu, kata Dhia, terjadi karena para akademisi getol mengeluarkan pernyataan kritis terhadap beberapa persoalan yang terjadi belakangan ini khususnya penolakan RUU TNI

“Ada kondisi tekanan-tekanan yang terjadi untuk menertibkan civitas akademika untuk pasif dan tunduk atau tidak kritis pada pemerintah, terutama pasca pembahasan RUU TNI,” kata Dhia.

Lebih lanjut, Dhia menilai berbagai dinamika sejarah telah memperlihatkan bahwa militer selalu gagal jika terlibat dalam ruang akademik. Hal yang justru muncul justru hanya perlakuan represifitas.

“Sejarah telah membuktikan setiap kali militer masuk ke kampus, yang terjadi adalah represi, pembungkaman, dan kehancuran nalar kritis. Kita menolak hidup di bawah sepatu lars yang siap menginjak kebebasan akademik,” ungkapnya. 

Sementara itu, Koordinator Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) Satria Unggul Wicaksana mengatakan, saat impunitas TNI diberi legalitas lebih untuk berperan di kehidupan kampus, hal yang akan terjadi adalah membatasi ruang kebebasan berekspresi dan kebebasan akademik.

Ia menyebut dalam beberapa tahun terakhir, tekanan militer di kampus terasa nyata adanya mulai dari aksi sweeping atau pelarangan buku kiri, maupun pelarangan diskusi isu sensitif  seperti paham komunisme, LGBT, atau isu Papua. 

“Ini berujung teror pada dosen dan mahasiswa. Ini datanya tidak tunggal. Adanya militerisasi ini bertentangan dengan spirit pemajuan demokrasi dan perlindungan HAM, serta kebebasan akademik,” tegas Satria. (P-4)

Read Entire Article